Ah.. Mungkin ini hanya tulisan curhat!! Saya adalah Aku, Kamu, Dia dan Kalian; adalah Guru

Diposting pada: 2014-09-22, oleh : Administrator, Kategori: Cerpen

Beberapa waktu yang lalu, ada sebuah kejadian yang sangat megesankan bagi saya, iya.. saya. Saya mencoba mengarungi dan mempelajari pikiran-nya; semua orang. Antara Aku, Kamu, Dia dan Kalian; dan akhirnya berujung pada pembicaraan ini:

A             : Di jalan raya banyak motor dan mobil saling menyalip satu sama lain. Mengapa? Tanya Ku.

K             : Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka dididik untuk menjadi lebih cepat dan bukan menjadi lebih sabar, mereka dididik untuk menjadi yang terdepan dan bukan yang tersopan.

A             : Aku menghelan nafas, dan bertanya lagi. Di jalanan pengendara motor lebih suka menambah kecepatannya saat ada orang yang ingin menyeberang jalan dan bukan malah mengurangi kecepatannya. Mengapa?

D             : Menjawab; karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah anak kita setiap hari diburu dengan waktu, di bentak untuk bergerak lebih cepat dan gesit dan bukan di latih untuk mengatur waktu dengan sebaik-baiknya dan dibuat lebih sabar dan peduli.

A             : dan bertanya lagi, di hampir setiap instansi pemerintah dan swasta banyak para pekerja yang suka korupsi. Mengapa?

Kl            : Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah anak-anak di didik untuk berpenghasilan tinggi dan hidup dengan kemewahan mulai dari pakaian hingga perlengkapan dan bukan di ajari untuk hidup lebih sederhana, ikhlas dan bangga akan kesederhanaan. 

A             : pucat, mulai bertanya lagi. Di hampir setiap instansi sipil sampai petugas penegak hukum banyak terjadi kolusi, manipulasi proyek dan anggaran uang rakyat. Mengapa..?
K, D, KL kompak menjawab: Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka dididik untuk menjadi lebih pintar dan bukan menjadi lebih jujur dan bangga pada kejujuran.

A             : selanjutnya, di hampir setiap tempat kita mendapati orang yang mudah sekali marah dan merasa diri paling benar sendiri. Mengapa..?

D             : menjawab kerena dulu sejak kecil dirumah dan disekolah mereka sering di marahi oleh orang tua dan guru mereka dan bukannya diberi pengertian dan kasih sayang. 

A             : sekali lagi bertanya, di hampir setiap sudut kota kita temukan orang yang tidak lagi peduli pada lingkungan atau orang lain. Mengapa..?

K             : Karena dulu sejak kecil di rumah dan disekolah mereka dididik untuk saling berlomba untuk menjadi juara dan bukan saling tolong-menolong untuk membantu yang lemah.

Lagi-lagi A bertanya : Di hampir setiap kesempatan termasuk di face book ini juga selalu saja ada orang yang mengkritik tanpa mau melakukan koreksi diri sebelumnya. Mengapa?

Kl            : menjawab karena dulu sejak kecil di rumah dan disekolah anak-anak biasa di kritik dan bukan di dengarkan segala keluhan dan masalahnya.

Sambil tersedak A kembali bertanya : Di hampir setiap kesempatan kita sering melihat ada orang "ngotot" dan merasa paling benar sendiri. Mengapa?

D             : karena dulu sejak kecil di rumah dan sekolah mereka sering melihat orang tua atau gurunya "ngotot" dan merasa paling benar sendiri. 

Mulai menyapu air mata A bertanya lagi : Di hampir setiap lampu merah dan rumah ibadah kita banyak menemukan pengemis. Mengapa?

K, D, KL menjawab: Karena dulu sejak kecil di rumah dan disekolah mereka selalu diberitahu tentang kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan mereka dan bukannya di ajari untuk mengenali kelebihan-kelebihan dan kekuatan-kekuatan mereka.

Tanpa disadari, akhirnya air matanya keluar tanpa ada yang bisa membendung. Aku membanyangkan, mungkin ini yang selama ini aku lakukan kepada mereka.

Akupun mengakhiri pembicaraan tanpa kata-kata apapun untuk sekedar pamit kepada Dia, Kamu dan Kalian.

Dan akhirnya aku belajar untuk menjadi “baru guru” bukan “guru baru”.

 

Di olah kembali dari tulisan George Carlin seorang Comedian pemerhati kehidupan.


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa Http:// contoh :www.m-edukasi.web.id
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini

Username
Password

YM Admin Sekolah
YM Khoirudin
al-quran-on-line-sd-muhammadiyah-karangkajen

Quran Surat Al Baqarah 2 : 7

7. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka [20], dan penglihatan mereka ditutup [21]. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. [20] Yakni orang itu tidak dapat menerima petunjuk, dan segala macam nasehatpun tidak akan berbekas padanya. [21] Maksudnya: mereka tidak dapat memperhatikan dan memahami ayat-ayat Al Qur'an yang mereka dengar dan tidak dapat mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Allah yang mereka lihat di cakrawala, di permukaan bumi dan pada diri mereka sendiri.

Baca Surat » Al Baqarah »

www.m-edukasi.web.id blog guru
189536 Total Hits Halaman
57092 Total Pengunjung
107 Hits Hari Ini
57 Pengunjung Hari Ini
1 Pengunjung Online