Tentang Kesempurnaan; Dialog antara Kahlil Gibran dan Gurunya

Diposting pada: 2014-09-22, oleh : Administrator, Kategori: Cerpen

Ada yang aneh dengan buku itu, entah kenapa buku itu berbeda dengan buku-buku yang lain. Biasanya setiap membeli buku, seminggu kemudian buku tersebut sudah selesai dibaca. Tapi berbeda dengan buku yang satu ini, entah kenapa ada sedikit keraguan untuk membacanya. Bukan malas, tapi ada kecanggungan untuk berdialog dengan sang penyair; Kahlil Gibran. Karena memang bagiku buku adalah guru yang tak pernah memarahi, yang menjawab seluruh pertanyaan kehidupan yang menggelayut dalam benak-ku. Itulah buku.

Tapi entah kenapa, ada yang mencoba merayuku untuk membuka halaman demi halaman buku tersebut. Memaksaku untuk tidak tidur semalaman guna berdialog dan mengarungi dunia fantasi buku tersebut. Ah.. mungkin Kahlil Gibran berhasil melobi Tuhan supaya aku membaca bukunya; batinku.

Akhirnya akupun terbuai, terbawa arus yang di ceritakan oleh Kahlil Gibran lewat buku tersebut. Gibran mencoba menarik-ku supaya aku keluar dari apa yang selama ini aku yakini kebenarannya-tentang kesempurnaan. Ah.. ternyata Gibran berhasil menundukkan-ku, aku bertekuk lutut dengan gagasannya- satu-nol aku kalah. Tapi tak mengapa, aku banyak belajar dari apa yang Gibran katakan kepada-ku. Ini sebagian isi bukunya-ceritanya :

Suatu hari Kahlil Gibran berdialog dengan gurunya, Gibran memulai dialog dengan sebuah pertanyaan:

Gibran : “Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup?”

Sang guru merenung sejenak kemudian menjawab: “Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali kebelakang”. Gibran pun mencoba untuk mendalami dan melakukan apa yang gurunya katakan.

Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Gibran kembali dengan tangan hampa. Lalu sang guru bertanya: “Mengapa kamu tidak mendapatkan bungan satu pun?”

Gibranpun menjawab : “Sebenarnya tadi aku menemukannya, tapi tidak ku petik karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yang lebih indah, namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang terindah, dan aku pun tak bisa kembali ke belakang lagi!”

Sambil tersenyum sang Guru berkata : “Yaa.. itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak akan pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan yang ada!”

Lalu lakukanlah hal-hal seperti ini kata sang Guru:

Bila tidak mungkin memberi, jangan mengambil!

Bila mengasihi terlalu sulit, jangan membenci!

Bila tidak bisa menghibur orang, jangan membuatnya sedih!

Bila tidak mungkin meringankan beban orang, jangan memberatkannya!

Bila tidak bisa memuji, jangan menghujat!

Bila tidak bisa menghargai, jangan menghina!

Jangan mencari kesempurnaan, tapi sempurnakanlah apa yang telah ada pada kita.

Itu yang dikatakan Gurunya kepada Gibran..

 

Menghela nafas lalu aku berkata: “Terimakasih Tuhan engkau telah mempertemukanku dengan Kahlil Gibran”- itu saja.

Selamat menikmati..


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa Http:// contoh :www.m-edukasi.web.id
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini

Username
Password

YM Admin Sekolah
YM Khoirudin
al-quran-on-line-sd-muhammadiyah-karangkajen

Quran Surat Adz-Dzaariya 51 : 11

11. (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai,

Baca Surat » Adz-Dzaariya »

www.m-edukasi.web.id blog guru
174522 Total Hits Halaman
49177 Total Pengunjung
102 Hits Hari Ini
22 Pengunjung Hari Ini
1 Pengunjung Online