SEKILAS INFO
05-08-2020
  • 6 hari yang lalu / Selamat Hari Raya Idul Adha 1441 H
  • 1 minggu yang lalu / Melebihi pukul 06.40 WIB gerbang ditutup
  • 5 bulan yang lalu / SELAMAT DATANG DI SD MUHAMMADIYAH KARANGKAJEN – Sekolah Kreatif Inovatif bernuansa Islami
17
Feb 2020
KISAH PARA PENGHAFAL AL-QUR’AN: HAFALAN INI AKU PERSEMBAHKAN UNTUK AYAH

Oleh: JA. Nurfalah, S.Pd.I., M.S.I

Kisah ini, barangkali kita sudah mendengar dan membaca di broadcase media sosial; baik itu facebook, Whatsapp ataupun di media sosial lainnya. Kisah ini menceritakan tentang seseorang anak berusia 10 tahun, sebut saja namanya Umar, dan ayah yang merupakan pengusaha sukses di salah satu kota terkenal di Negara kita. Kisah ini membuat banyak orang terhenyak; berfikir ulang tentang arti sebuah kesuksesan, cara mendidik anak, tentang kebahagiaan bathin dan tentunya kesuksesan dunia akhirat. Mudah-mudahan kisah ini mengetuk hati sanubari kita untuk benar-benar berusaha mendidik anak-anak supaya sukses dunia akhirat.

Umar oleh orag tuanya di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Ibu Kota. Sang ayah berfikir bahwa sang anak harus mendapat pendidikan yang terbaik dan kelak harus sukses mengikuti jejaknya. Suatu hari, istri pengusaha itu memberi tahu suaminya, bahwa sekolah Umar mengadakan Father’s Day. Dan meminta suaminya datang ke sekolah anaknya. Namun sang ayah menolak, dengan mengatakan: “Waduh saya sibuk ma, kamu saja yang datang”. Sang ayah memang sangat sibuk dengan bisnisnya, sehingga menganggap acara seperti itu kurang penting.

Namun sang istri marah. Sebab sudah berbagai kesempatan dilewatkan suaminya. Sehingga kali ini dia memaksa agar sang suami mau datang ke sekolah Umar untuk acara Father’s Day tersebut. Sang ayah pun mau datang. Meski dengan ogah-ogahan. Dia tak antusias. Saat ayah-ayah lain berebut kursi paling depan agar bisa melihat anak mereka dengan lebih dekat, ayah Umar malah duduk di belakang.

Satu persatu anak-anak di sekolah itu unjuk kebolehan di atas panggung, disaksikan ayah mereka. Mereka membacakan puisi, menyanyi, menari, dan sebagainya. Kini, giliran Umar. Dia bertanya kepada sang guru untuk memanggilkan Ustadz di sekolah itu. “Miss, bolehkah saya panggil Pak Arief?” tanya Umar kepada gurunya. Pak Arief adalah guru ekstrakurikuler mengaji di sekolah itu. Pak Arief pun dipanggil untuk naik ke atas panggung. “Pak Arief, bolehkah bapak membuka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’)”, begitu Umar minta kepada guru ngajinya. “Tentu saja boleh nak”, jawab Pak Arief. “Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yang salah”. Lalu Umar mulai melantunkan Surat An-Naba’ tanpa membaca mushafnya alias hafalan. Dengan lantunan irama yang persis seperti bacaan Imam Besar Masjidil Haram, Syaikh Sudais.

Semua hadirin diam. Terpaku mendengarkan bacaan Umar yang mendayu-dayu, termasuk ayahnya yang duduk di belakang. “Stop.. kamu telah selesai membaca ayat 1 sampai dengan 5 dengan sempurna. Sekarang coba kamu baca ayat 9”. kata Pak Arief memotong bacaan Umar. Umar lantas membaca ayat 9 yang diminta Pak Arief. Setelah ayat 9 dibaca, Pak Arief kembali memintanya berhenti dan membaca ayat ke-21 kemudian ayat ke-33. “Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)”, kata Pak Arief. Umar pun membaca ayat ke-40 tersebut sampai selesai.

“Subhanallah, kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna nak”, demikian teriak Pak Arief sambil mengucurkan air matanya. Para hadirin yang muslim pun tak kuasa menahan airmata. Lalu pak Arief bertanya kepada Umar, “Kenapa kamu memilih menghafal Alquran dan membacakannya di acara ini nak, sementara teman-temanmu unjuk kebolehan yang lain?” Mendapat pertanyaan itu, Umar mengutip hadis Nabi Muhammad SAW., yang pernah disampaikan Arief kepadanya: “bahwa barang siapa membaca Alquran akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Kepada orangtuanya akan dipakaikan jubah karena memerintahkan anaknya untuk mengaji.

“Pak guru, saya ingin mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah SWT., di akhirat kelak. Sebagai seorang anak yang berbakti kepada kedua orangnya”, tambah Umar. Semua orang terkesiap dan tidak bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 tahun tersebut. Di tengah suasana hening itulah, tiba-tiba terdengan teriakan “Allahu Akbar!” Seseorang lari dari belakang menuju ke panggung.

Ternyata dia ayah Umar, yang dengan tergopoh-gopoh langsung menubruk sang anak, bersimpuh sambil memeluk kaki anaknya; ”Ampuun nak, maafkan ayah yg selama ini tidak pernah memperhatikanmu, tidak pernah mendidikmu dengan ilmu agama. Apalagi mengajarimu mengaji” ucap sang ayah sambil menangis di kaki anaknya; ”Ayah menginginkan agar kamu sukses di dunia nak, ternyata kamu malah memikirkan “kemuliaan ayah” di akhirat kelak, ayah malu nak” ujar sang ayah sambil nangis tersedu-sedu.

Hikmah yang bisa kita ambil dari kisah tersebut adalah terkadang kita lalai dalam mendidik anak kita dalam hal urusan agama. Kita lebih bangga ketika anak berprestasi dibidang akademik, juara lomba A, juara lomba B dan seabreg lomba-lomba yang lain. Malah kita lupa untuk mempersiapkan anak kita untuk menjadi anak yang shaleh dan shalehah, yang akhlaknya mulia, rendah hati, dan bisa membaca al-Qur’an serta shalat dengan baik. Mudah-mudahan kisah tersebut menjadi pengingat kita dalam hal pentingnya pendidikan agama untuk menghantarkan anak-anak kita bahagia dunia dan akhirat.

Data Sekolah

SD Muhammadiyah Karangkajen

NPSN : 20403344

Jl. Menukan 2 Yogyakarta
KEC. Mergangsan
KAB. Yogyakarta
PROV. D.I. Yogyakarta
KODE POS 55153

Pengumuman

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SD Muhammadiyah Karangkajen tahun ajaran 2020/2021

Peta Sekolah